August 9, 2009 at 6:30 AM (Story)

Mawan Pakpahan
Mawan Pakpahan
Create Your Badge

Permalink Leave a Comment

the beatles

July 19, 2009 at 3:56 PM (Music) ()

the beat1
The Beatles adalah salah satu grup musik rock paling awal sekaligus paling berpengaruh di era modern. Beranggotakan John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr, kebanyakan lagu mereka ditulis oleh Lennon dan McCartney. Popularitas mereka sedemikian tingginya di Britania Raya sehingga di tahun 1963 pers menelurkan istilah “Beatlemania”. Mereka juga kemudian meraih sukses di Amerika Serikat dan seluruh dunia.

Dibentuk di Liverpool tahun 1959 dengan formasi awal John Lennon (Vokal, Gitar), Paul Mc Cartney (Vokal, Gitar), George Harrison (Vokal, Gitar), Stuart Sutcliffe (Bass) dan Pete Best (Drum). Namun tak lama kemudian Stuart Sutcliffe mengundurkan diri (hijrah ke Jerman dan menikahi Astrid Kircherr dan meninggal disana tahun 1962 akibat pendarahan di otak). Lalu pada tahun 1962 Pete Best hengkang dari The Beatles, dan posisinya digantikan oleh Richard Starkey alias Ringo Starr
the beat3
Manager The Beatles, Brian Eipstein, pertama kali mengenal Beatles lewat banyaknya request pembeli piringan hitam di toko musiknya. Pertama kali Brian mencoba menawarkan Beatles kepada Decca Record, label besar perusahaan rekaman kala itu. Audisi bisa didapat, hanya saja manajemen Decca berpendapat bahwa kelompok musik gitar sudah lewat masa tenarnya. Kendati keempat pemuda menjadi patah arang, Brian akhirnya bisa mendapatkan audisi bagi mereka di satu label rekaman, Parlophone, yang sejatinya adalah perusahaan rekaman untuk siaran radio. George Martin, manajer Parlophone, setuju, dan dimulailah perekaman untuk album pertama The Beatles yang bertajuk “Please Please Me”. Lagu Please Please Me dan Love Me Do merupakan andalan untuk album tersebut.
the beat

Permalink Leave a Comment

The Spirit Carries On

June 20, 2009 at 5:20 AM (Music) ()

Telaah Psikologi Kematian dalam Perspektif Heideggerian
Oleh:
Audifax2
images-1

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

Petikan lirik lagu “Spirit Carries On” dari Dream Theatre ini menginspirasi penulis. Mengajak untuk mempertanyakan dari mana kita berasal, di mana kita saat ini, akan ke mana setelah mati. Apa yang kita tinggalkan sebelum mati dan adakah kepastian dalam kehidupan. Lagu itu makin menarik ketika penulis menghubungkan dengan berita mengenai sekte yang menunggu datangnya kematian, di Pondok Nabi, Bale Endah Bandung3 atau berbagai peristiwa bom bunuh diri bernuansa fanatisme agama.

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I’m not scared anymore
I know that my soul will transcend

Lagu itu mengalun lagi. Menggambarkan ketakutan yang menghinggapi seseorang ketika menghadapi kematian. Ketakutan yang hilang, ketika orang itu mengetahui bahwa jiwanya akan terangkat menuju suatu tempat.

Sejarah mencatat bahwa hampir semua orang menghadapi kematian dengan rasa takut

As previously noted, primitive man’s reaction to death was one of fear. In this enlightened age, man still reacts to death with fear. Death is still an unknown. No one obviously, has ever died and returned to tell us what death is really like. Man naturally fears what he does not understand and can not control. The so-called “near-death” experience is still not a death experience. We can never know exactly what death is, so we can never fully understand it. Therefore we can never stop totally from fearing it.

Much of our response to death is avoidance. Death is not a pleasant topic of conversation. When death must be talked about, it is usually done in academic terms. Talking about death on a personal level creates discomfort. It is much easier to talk about death in terms of, “People die,” rather than in terms of, “Someday I will die.”.4

Semakin menarik, ketika penulis mencoba memikirkan apa yang ada di benak penganut sekte kematian tersebut. Mereka tampak begitu yakin dalam menghadapi kematian, tidak tergambar ketakutan. Bahkan memiliki keyakinan untuk masuk surga. Suatu kondisi yang setara dengan ketika Imam Samudra, Amrozy, pelaku bom bunuh diri di Turki, dan orang-orang yang meledakkan beberapa tempat dengan mengambil resiko untuk berhadapan dengan kematian.

Ontologi Kematian

Surga [dan neraka] adalah simbol arkais yang menggambarkan suatu “tanah terjanji” bagi orang-orang setelah melalui kematian. Secara hermeneutis, orang-orang Sekte pimpinan Mangapin Sibuea dan para pelaku-pelaku pengeboman, yang keduanya mengatasnamakan agama untuk tindakan yang dilakukan, mengharapkan tanah terjanji tersebut setelah kematian. Namun pertanyaan muncul, darimana mereka bisa begitu yakin bahwa mereka akan memasuki tanah terjanji ?

Kita mungkin tidak akan pernah mengerti mengapa mereka melakukan itu semua. Sebuah tindakan yang tidak akan pernah masuk dalam nalar logis. Namun sebenarnya bukan itu yang penting. Pemaknaan mengenai kematian justru menjadi hal yang menarik. Selama ini, sebagian dari kita menyadari kematian, tanpa memiliki konsep jelas dalam menyikapi. Yang ketakutan, bahkan memilih untuk tidak memikirkannya. Ini membuat seseorang menjalani kehidupan dengan hampa tanpa pernah mempertanyakan apa makna hidup, dari mana dia berasal, mengapa dia hidup dengan keberadaan sekarang, apa yang akan terjadi jika dia mati, dan apa makna kematian.

Hidup kita, layaknya melihat matahari terbit setiap hari dan tidak pernah mempersoalkan pemaknaannya dalam kehidupan kita. Kerapkali, kita menerima begitu saja apa yang kita lihat dan dikatakan orang. Edmund Husserl menyebut sikap taken for granted ini sebagai nat�rliche Einstellung (Sikap alamiah), yaitu kepercayaan naif bahwa dunia luar itu ada begitu saja.

William Dilthey menjelaskan bahwa hidup penuh dengan makna5. Bila kita mencoba menjelaskan tentang alam dan kematian, saat itu pula kita memahami kehidupan batin. Apa yang kita pahami mengenai alam dan kematian bukan merupakan pemahaman sebenarnya, karena alam bukan buatan manusia. Pemahaman mengenai alam adalah suatu peng�alam�an peristiwa. Menjadikan sesuatu yang sebelumnya eksternal menjadi internal, menyatu dengan batin.

Dilthey membuat perbedaan penting antara dua buah kata dalam bahasa Jerman yang sama-sama dapat diterjemahkan sebagai “pengalaman”, yaitu erfahrung dan erlebnis. Kata erfahrung biasanya diartikan sebagai “pengalaman” seperti pemahaman kita pada umumnya. Sedangkan erlebnis adalah kata turunan yang berasal dari kata kerja erleben yang berarti “mengalami”. Erfahrung adalah term umum, sedangkan erlebnis adalah term khusus yang dipergunakan untuk mengkonotasikan pengalaman batin atau “pengalaman yang hidup”6.

Berkaitan dengan psikologi, kita melihat bahwa tidak semua pengalaman dapat disebut dengan erlebnis atau pengalaman yang hidup. Bisa jadi, seseorang menjalani kehidupan tanpa memiliki pengalaman yang hidup selain pengalaman-pengalaman yang menjenuhkan dan tidak bermakna apa-apa (erfahrung).

Semboyan Husserl, Zur�ck zu den Sachen selbst (kembalilah ke hal-hal itu sendiri) dapat kita mengerti sebagai upaya untuk mendekati fenomena kehidupan semurni mungkin dan dunia-kehidupan seotentik mungkin. Fenomena kematian, dalam perkembangannya tidak pernah tampak apa adanya karena sudah ditafsirkan oleh para “ahli”, misalnya diteropong sebagai bentuk fundamentalisme, liberalisme, humanisme, dan isme-isme lainnya. Tetapi apakah fenomena kematian itu pada dirinya?

Episteme Kematian

Fenomena kematian adalah suatu pintu menuju fenomena lain. Untuk membiarkan kematian “menampakkan diri” pada dirinya sendiri, kita tidak bisa menafsirkan penafsiran-penafsiran siapapun begitu saja, melainkan membuka diri, yaitu membiarkan kematian terlihat. Langkah tepat untuk memahami kematian adalah membuka diri, bukan sekedar menganalisis. Bayangkanlah kita sebagai orang yang melihat pertama kali fenomena kematian, pertama-tama akan heran, mengapa ada kematian? Keheranan yang akan menempatkan kita sebagai �pemula� dalam melihat kematian. Seperti tergambar dalam lanjutan lirik lagu Spirit Carries On berikut :

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again

Ya�kita mungkin tidak pernah memperoleh jawaban atau pemahaman eksak mengenai ontologi kematian. Tetapi, pencarian jawaban itulah yang membawa kita pada pemaknaan hidup, ketimbang membiarkan kematian dan taken-for granted terhadap semua pemahaman mengenai kematian.

The being that exists is man. Man alone exists. Rocks are, but they do not exist. Trees are, but they do not exist. Horses are, but they do not exist. Angels are, but they do not exist. God is, but he does not exist. The proposition “man alone exists” does not mean by any means that man alone is7

Satu-satunya Being atau �Ada� adalah manusia. Dengan mempertanyakan kembali �Ada� kita dalam kehidupan, maka kita tidak sekedar menjalankan hidup. Tidak seperti �Ada� dari orangutan atau mobil yang tergeletak di garasi, yang tidak pernah mempertanyakan �ada�-nya. Orangutan ada begitu saja dan mungkin tidak pernah mengambil jarak terhadap �Ada�-nya, maka dia tidak pernah menanyakan �Ada�-nya. Yang bisa melakukan itu adalah Dasein8 .

Dasein adalah kata Jerman yang berarti �Ada-di-sana� Ada di mana? �Di-sana� !. di dalam dunia begitu saja, tanpa tahu dari mana dan mau ke mana. Seperti yang dipertanyakan dalam lirik lagu Spirit Carries On. Itulah yang disebut faktisitas (Faktizit�t), yaitu kenyataan bahwa kita ada di dunia ini bersifat niscaya. Kita tak pernah ditanya lebih dahulu mau atau tidak hidup di dunia ini. Kita �ada-begitu-saja�, kita �di-sana�, di dalam dunia. Heidegger menyebut ini sebagai �keterlemparan� (Geworfenheit). Dasein terlempar ke dunia ini9.

Dasein adalah keber-ada-an manusia, tidak seperti entitas lain. Dasein bukan suatu [kata]�benda�. Ada dua ciri yang mengkarakterisasi Dasein : 1) Dasein memiliki suatu pemahaman mengenai dirinya sendiri, dan 2) Dasein, adalah Keber�ada�an, suatu ada- dalam- dunia atau �ada-sebagai-suatu-ada�.10

Dasein adalah term yang menggambarkan keberadaaan alami manusia dan relasi esensial manusia pada keterbukaan akan �Ada�-nya. Term ini juga berkembang, kendati dalam pemikiran metafisik kerap dipertukarkan dengan eksistensi, aktualitas, realitas, dan objektivitas, dan meski dalam metafisik penggunaan istilah ini lebih jauh didukung oleh ekspresi yang umum (dalam bahasa Jerman) : “menschliches Dasein.”11

Kita �ada-begitu-saja�, terlempar. Yang membedakan Dasein dari mengada-mengada lain, adalah bahwa Dasein menyadari keterlemparan ini, lalu berupaya memahaminya. Agama�meskipun secara holistis dan mendalam�hanyalah salah satu cara memahami keterlemparan, tetapi faktisitas tetap, yaitu bahwa kita �ada-begitu-saja�. Mengada-mengada yang lain juga �ada-begitu-saja�, tetapi tidak mempersoalkan fakta tentang �ada-begitu-saja� ini. Karena tidak mempunyai akses ke ada mereka. Mengada-mengada yang lain itu seolah tertutup pada dirinya sendiri. Dasein bisa menanyakan �Ada� karena memiliki hubungan dengan �Ada-nya, yakni terbuka terhadap �Ada�-nya. Hubungan dengan �Ada�-nya ini disebut eksistensi (Existenz)12.

Keterlemparan ini, juga terjadi ketika menghadapi kematian. Ketika, kita tak pernah �menjadwalkan� kapan kita lahir, maka kitapun tak pernah mengetahui kapan kita mati. Namun kebermaknaan hidup justru diperoleh di situ. Dalam ketidakpastian masa depan. Dengan ketidakpastian orang masih memiliki harapan. Harapan berarti terbukanya kemungkinan. Adanya kemungkinan membuat orang termotivasi untuk hidup. Di situlah orang dapat menatap ke depan dan terus memperbaiki diri sepanjang hidupnya. Kita terus meng-�ada� sepanjang kita hidup. Dasein memiliki peluang untuk terus memaknakan perjalanan kehidupan menuju kematian yang tidak dapat dipastikan kedatangannya.

�Ada� Dasein adalah suatu �menjadi� karena terus menerus mengada dan belum ada secara penuh. Dalam arti inilah Heidegger lalu menyebut bahwa Dasein adalah kemungkinan itu sendiri (Seink�nnen). �Ada� Dasein tak lain daripada sesuatu yang ia tentukan sendiri13.

Menyembul dan membenamkan diri dalam keseharian, menemukan �Ada�-nya dan raib di tengah anonimitas keseharian, itulah dinamika kehidupan Dasein sebagai �Ada-di-dalam-dunia�. Dalam peristiwa kehidupan manusia, selalu ada alunan rutinitas yang menghanyutkan; seperti ketika kita bangun tidur, makan pagi, berangkat kerja; makan siang, pulang kerja, makan malam, tidur. Tetapi ada kala di tengah arus rutinitas tersebut, kita seolah terhempas ke dalam diri kita sendiri; ketika kita tercenung cemas memikirkan hubungan cinta yang kandas karena perbedaan agama. Kekecewaan, cinta, pedih, dan ketakutan seolah membendung arus rutinitas. Demikian juga ketika seseorang mengalami kecemasan, karena situasi tertentu memaksanya sadar bahwa dirinya berhadapan dengan kematian. Di saat-saat itulah kita menyembul dari arus sungai rutinitas keseharian yang menghanyutkan kehidupan.

Baik menyembul maupun terbenam, tetap terjadi dalam arus sungai kehidupan keseharian. Dasein tak pernah keluar sepenuhnya dari keseharian. Dasein juga tidak berasal dari sesuatu yang di atas keseharian, melainkan senantiasa berada dalam derasnya arus keseharian. Bila kita amati, muncul skema berikut : manusia terlempar ke dunia ini, timbul dan terbenam dalam keseharian, dan akhirnya mati.

Being and Death

…Dasein constantly _is its not-yet as long as it is, it also already _is its end. The ending we have in view when we speak of death does not signify a being-at-an-end of Dasein, but rather a being toward the end of this being. Death is a way to be that Dasein takes over as soon as it is.14

Kematian adalah hal penting untuk kehidupan, dan merenungkan kematian tak lain daripada merenungkan kehidupan itu sendiri. Kematian adalah hal arkais dalam diri manusia, suatu fundamen dan totalitas terhadap �Ada�-nya di dunia ini, yang mencakup rentang sejak keterlemparan sampai kematiannya. Dasein menemukan otentisitasnya jika membuka diri terhadap �Ada�-nya dengan menghadapi kemungkinan kematiannya secara mendalam. Dasein menjadi inotentik ketika membiarkan dirinya larut dalam arus keseharian.

�Ada� manusia adalah suatu palung tanpa dasar, suatu Nicht (ketiadaan). Maksudnya, �Ada� manusia secara dasariah adalah �ketiadaan-diri-sendiri� (eine Nichtigkeit seiner Selbst). Keterlemparan dasein itulah yang menunjukkan bahwa �Ada� Dasein adalah suatu ketiadaan, karena Dasein tak berasal dari suatu yang diketahui dan menuju ke tujuan yang tak satupun ditetapkan sebelumnya15.

Tetapi, ketidaktahuan atau ketiadaan kepastian itulah yang menentukan �Ada�-nya, maka lompatan ke dalam hal tersebut menimbulkan kecemasan. Suatu kecemasan yang dapat menjadi mediasi untuk kontak dengan �Ada� yang menjadi sumber nilai-nilai, karena dalam kecemasan itu Dasein bergerak melalui lorong pemahaman akan pencapaian kemungkinan-kemungkinan16.

Dasein mencapai totalitas �Ada�-nya dalam kematian (Tod). Kematian adalah zenit totalitas �Ada� dasein, tetapi persis pada titik itu pula Dasein kehilangan �Ada�-nya�suatu nadir ontologis, karena Dasein berhenti sebagai Ada-di-dalam-dunia. Namun ada suatu ruang terhormat bagi dasein yang terhenti itu. Manusia yang mati �lebih� daripada seonggok daging, dan menjadi almarhum yang bermartabat. Kontak dengan �Ada�nya tidak berhenti. Bukan keabadian jiwa dalam pemahaman agama yang diacu di sini, melainkan pengalaman akan dunia-bersama yang masih membekas pada mereka yang ditinggalkan. Hubungan dengan yang mati seolah masih �bermukim� di dalam dunia-bersama itu, sehingga yang mati �lebih� daripada sekedar jenasah. Ciri �lebih� itu, katakanlah semacam sedimentasi memori hasil kebiasaan kontak makna dengannya selama ini17.

There is an important relationship between freedom and responsibility, between possibility and the integrity of one’s own being, which becomes clear in Heidegger’s discussion of the mood anxiety. In anxiety Dasein becomes aware of its facticity (that it is mortal) and its thrownness (that death is inevitable), for when Dasein reflects on what bothers it in anxiety the answer is “nothing”. Existentially this “nothing” or “no-thingness” is the possibility of Dasein no longer having any possibilities. Anxiety individualizes, that is Dasein becomes aware of the fact that death is non-relational or that death, one’s ownmost possibility, can not be shared. In realizing this possibility Dasein is called back from falling into the world of the “they” and is now freed to choose between authenticity and inauthenticity, interpreting itself in terms of its ownmost Self or interpreting itself in terms of its “they” self.18

Tak seorang pun dapat menjemput kematian untuk orang lain. Meski orang bisa mati demi ideologi tertentu seperti teroris yang melakukan bom bunuh diri sekte yang percaya bahwa di satu waktu dan tempat tertentu mereka akan bersama-sama naik ke surga; tetapi kematian adalah tetap kematian bagi dirinya sendiri, bukan mewakili kematian orang lain. Maka itu, kematian adalah momen paling otentik dan eksistensial bagi dasein.

Akhir yang dimaksud dengan kematian, bukanlah berakhirnya dasein, melainkan suatu Ada-menuju-akhir. Dengan kata lain, akhir itu sudah ada sejak permulaan. Kematian sudah menyongsong Dasein sejak keterlemparannya. Manusia adalah ada-menuju-kematian (Sein-zum-Tode). Artinya, karena menyongsong sejak awal sampai akhir, kematian juga merentang dalam keseharian kita. Kematian selalu, dan tidak sekali saja, menghampiri dasein. Begitu juga dengan kelahiran. Keduanya adalah hal yang eksis dalam kehidupan manusia.

Ada suatu cara sederhana untuk melihat kerangka pendekatan Heidegger dalam memahami kematian: Ketika kematian bukan sesuatu yang bisa menjadi bagian dari pengalaman (melalui perjalanan hidup), tidak akan pernah ada yang bisa kita bicarakan mengenai kematian itu sendiri. Apa yang penting bukan kematian (death) itu sendiri tetapi perjalanan menuju kematian (dying), karena esensi dari keberadaan hidup manusia adalah perjalanan menuju kematian19.

Kematian bukan [hanya] dalam pengertian sempit mengenai kematian fisik, melainkan kemungkinan untuk mati. Manusia pasti mati, tetapi tak tahu kapan dan bagaimana. Kecemasan akan kematian eksis dan suatu ketika menyembul dari arus keseharian. Kecemasan itu adalah kecemasan akan kemungkinannya sendiri. Namun sekali lagi, meski menyembul keluar, kematian tetap berada dalam genangan arus keseharian. Di sini akan muncul dua macam sikap terhadap kematian : sikap manusia yang inotentik, cenderung menenang-nenangkan diri dengan anggapan bahwa kematian pasti menimpa setiap orang; dan sikap dasein yang otentik membuka diri terhadap kemungkinan paling mungkin dari dirinya, yaitu kematiannya.

Manusia otentik sudah terbiasa dengan cemas dan kesendiriannya. Artinya, dalam keseharian pun ia tetap bening dengan diri20. Antisipasi adalah ciri manusia atau Dasein karena ia adalah ketersingkapan itu sendiri. Karena menyingkapkan dirinya sendiri, dia terbuka terhadap sesuatu yang ada di depan. Dia selalu menyongsong ke depan, mendahului diri, dalam arti manusia itu selalu merupakan gerak, gerak menjadi (Werden), yaitu tidak pernah selesai untuk berkembang. Selalu berkembang sampai mati21.

Dalam kejawen, kita mengenal pengertian umum yang serupa dengan apa yang dimaksud oleh Heidegger sebagai membuka diri terhadap kematian, yang diistilahkan dengan Sangkan Paraning Dumadi (Totalitas asal dan tujuan manusia: bahwa keberadaan manusia di dunia hanya seperti orang mampir minum di warung). Suatu kesadaran bahwa manusia itu hidup menuju kematian dan keberadaan di dunia hanya persinggahan sementara. Ini adalah bentuk antisipasi (Vorlaufen) atas kematian. Mereka menganggap kematian inheren dalam kehidupan, dan oleh karena itu tak guna ditakutkan. Mereka melihat kematian sebagai bagian eksistensi.

Bandingkan dengan fenomen yang mirip dengan itu, yaitu orang yang karena ajaran-ajaran tertentu tidak lagi takut mati, malah membuat dirinya cepat mati, seperti penganut sekte penunggu kiamat atau pelaku bom bunuh diri. Dalam perspektif Heideggerian, itu termasuk modus kehidupan yang tidak otentik (Das Man). Orang-orang ini, melihat kematian selalu di depan mata, kemudian mereka juga ikut membunuh bersama yang lain. Tidak lagi cemas dengan kematian, tetapi juga tidak pernah sampai taraf di mana harus menghargai hidup. Hanya nafsu survival saja. Membunuh atau dibunuh.

Heidegger menekankan bagaimana kita menghargai hidup yang historis, tidak destruktif bagi sesama manusia, lingkungan alam, lingkungan benda-benda sekitar. Semua adalah relasi kehidupan bersama sebagai meng-�Ada� di dunia, dan tugas Dasein-lah untuk merawat eksistensi dunianya. Bagi Dasein, kesadaran akan kematian pada akhirnya merupakan kesadaran akan makna kehidupan.

Bukan kematian yang menjadi esensi untuk kita cemaskan tetapi keotentikan kita dalam menghadapi kematian itu. Keotentikan yang bisa kita peroleh dari kesadaran akan keberadaan kita dan tidak membiarkan kita larut dalam arus keseharian. Larut dalam dogma-dogma serta janji yang kita sendiri tidak pernah tahu esensinya bagi penghargaan akan kehidupan, atau larut dalam usaha untuk bertahan hidup tanpa pernah memaknakan apa sebenarnya arti hidup bagi kita. Dengan menyadari keotentikan kita, maka sebenarnya kita tidak akan pernah takut mengalami kematian itu sendiri. Kematian kitapun bukan sekedar kematian tanpa makna bagi kehidupan yang kita tinggalkan.

If I die tomorrow
I’d be allright
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

dream
on

Audifax – 25 Februari 2005

Permalink Leave a Comment

L.O.V.E.

June 10, 2009 at 11:01 AM (Curahan, Humor) (, )

images
Cerita mengharukan:
Diane dan Jack berteman baik. Mereka telah saling mengenal sejak bersekolah
dan sejak menjadi sahabat baik. Mereka berbagi semua dan apapun juga dan
menghabiskan banyak waktu bersama dalam dan setelah sekolah. Tetapi hubungan
mereka tidak berkembang namun hanyalah sebatas teman. Diane menyimpan
rahasia,kekagumannya dan cintanya kepada Jack. Dia memiliki alasan
tersendiri untuk menyimpan hal itu sendiri. TAKUT! Takut akan penolakan,
takut jika Jack tidak sebagai temannya lagi, takut kehilangan seseorang yang
dia merasa nyaman bersamanya.

Setidaknya jika dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa
bersama Jack dan dengan harapan, bahwa Jack lah yang akan mengatakan
bagaimana perasaannya kepada Diane.
Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar. Jack dan Diane pergi ke arah
yang berlainan. Jack melanjutkan studinya ke keluar negeri, sedangkan Diane
mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan, dengan surat, saling
mengirimkan foto masing-masing dan saling mengirimkan hadiah. Diane merindukan Jack akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia memiliki
kekuatan untuk mengatakan. Dan tiba-tiba, surat dari Jack terhenti. Diane
menulis kepadanya,tetapi tidak ada jawaban.
Dimana dia? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya. Dua
tahun berlalu dan Diane tetap berharap bahwa Jack akan kembali atau
setidaknya mengiriminya surat. Dan doanya terkabul.
Dia menerima suratdari Jack, mengatakan…! ” Diane, aku punya kejutan
untukmu… temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu untuk
menemuimu lagi. Cinta dan cium Jack”
Diane berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita
yang belum merasakan cinta sebelumnya.
Dia begitu gembira atas kata-kata itu.
Ketika harinya telah tiba, Diane menunggu dengan cemas. Dia memakai pakaian
terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia mencari Jack kesana
kemari. Tetapi tidak dilihatnya Jack. Kemudian datang seorang wanita dengan
pakaian ketat berwarna biru yang seksi.
Dia begitu perhatian melihat Diane, “Hai! Aku Jacelyn, temannya Jack. Kamu
Diane?” tanyanya. Diane menganggukkan kepala. “Maaf, aku punya kabar buruk
bagimu. Jack tidak akan datang. Dia tidak akan datang lagi,” kata wanita
itu, sambil meletakkan tangannya di pundaknya Diane.
Diane tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!! Apa yang telah
terjadi?? Diane bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya
menjadi pucat.
“Dimana Jack? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku…” Diane memohon
kepada si wanita.
Si wanita melihat dengan cermat ke Diane dan dia menepuk pundak Diane dan
mengatakan……….

“ALAMAK DIANE… INI IKE JACK…APAKAH IKE TERLIHAT CANTIK SEKARANG?
AIH….AIH……YEY TIDAK DAPAT MENGENALI IKE LAGI YAH??? IHHH…SEBEL
DEH…..!!! …….
Dan kemudian Diane langsung pingsan…..

Permalink Leave a Comment

He Leadeth me…..

June 9, 2009 at 5:20 PM (Curahan) (, )

HeLeadethMe

Ini adalah lagu dalam bahasa inggris yang sangat menyentuh hati, sederhana dan saya yakin akan membawa kita ke dalam suasana berbakti yang penuh berkat. Kebanyakan lagunya sudah kita kenal baik dan sering kita nyanyikan baik dalam bahasa inggris maupun Indonesia.

“For the friends are friends forever..if the Lord is Lord of them,
And a friend will not say never, cause the welcome will not end,
Though it’s hard to let you go..In the Father’s hand we know,
For that lifetime’s not too long to live as friends”.

inilah yg kualami saat ini….

Permalink Leave a Comment

Siapa yang pernah liat burung??????

June 8, 2009 at 3:54 PM (Humor) (, )

bird-12

Seorang pastor, yang berasal dari Eropa dan bahasa Indonesianya masih kacau, karena punya banyak waktu senggang ,di salurkan dengan melakukan hobi memelihara burung, ada banyak dan bermacam macam jenisnya. Pada suatu pagi, di temukan oleh si pastor burungnya hilang semua. Merasa ulah si maling udah keterlaluan, si pastor berencana akan membawa masalah ini di kotbah minggu.
Pas kebaktian minggu, setelah berkotbah panjang lebar soal moral dan sepuluh perintah tuhan dengan penekanan pada perintah “jangan mencuri” Si pastor bertanya “siapa yang punya burung?”
Seluruh jemaat laki laki segera berdiri.
Menyadari kesalahannya dalam cara bertanya si pastor buru-buru berkata “bukan itu maksud saya” dan dilanjutkan dengan pertanyaan “maksud saya adalah, siapa yang pernah lihat burung?”
Seluruh jemaat wanita berdiri.
Karena si pastor sadar pertanyaannya makin tidak pas, dengan muka merah dia berkata lagi “maaf, bukan itu maksud pertanyaan saya” dan dilanjutkan “maksud saya adalah siapa yang pernah lihat burung bukan miliknya”
Separuh jemaat wanita berdiri.
Muka si pastor makin merah, dan juga makin gugup, segera berkata lagi “maaf sekali lagi, bukan ke arah situ pertanyaan saya, maksud saya adalah, siapa yang pernah lihat burung saya?”
Segera saja semua anak altar berdiri.
16301_red_yellow_and_blue_scarlet_macaw_parrot_bird_ara_macao_with_a_white_circle_around_its_eye

Permalink Leave a Comment

Sejarah HKBP

June 7, 2009 at 5:58 AM (Pendidikan, Story) (, )

hkbp

# 1824 * Missionaris pertama ke Tanah Batak yaitu Tuan Burton dan tuan Ward dari Inggris
# 1825 * 1829 Perang Tuanku Rau (Perang Bonjol) terhadapTanah Batak dan sejak saat itulah Islam masuk ke Tapanuli.
# 1834 * Pendeta Samuel Munson dan Pdt. Henry Lyman datang ke Tapanuli yaitu Missionaris yang dikitim oleh Zending Boston, Amerika Serikat Meninggal di Lobu Pining.
# 1840 * Tuan Junghun ahli sejarah dari Eropa menerbitkan Buku mengenai Tanah Batak khususnya Tapanuli.
# 1849 * Tuan Van Der Tuuk dari Amsterdam, Belanda menerjemahkan sebagian isi Alkitab ke bahasa BAtak dan Kamus Batak-Belanda.
# 1857 * Pdt. Van Asselt tiba dari negeri Belanda dan melayani gereja di Tapanuli Selatan.
# 1858 * Dengan beredarnya Buku mengenai Batak dan Indonesia di Eropa, Akhirnya para missionaris banyak yang datang ke tempat-tempat terpencildi Kalimantan dan sekitarnya.

Nomensen
# 1861 * Hari lahirnya HKBP, tepatnya 7 Oktober 1861.
# 1864 * DR. I.L. Nommensen membuka desa baru yang disebut Godung Huta Dame, Saitnihuta.
# 1878 * DR. I.L. Nommensen menerjemahkan Alkitab yaitu Perjanjian Baru ke bahasa Batak Toba dengan huruf latin.
# 1879 * DR. A. Schreiber menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru ke bahasa Batak Angkola.
# 1881 * DR. I.L. Nommensen terpilih menjadi Ephorus HKBP yang pertama.
# 1890 * Terbit majalah “IMMANUEL”.
# 1907 * Berdirinya HKBP Pematang Siantar.
# 1911 * Berdirinya DISTRIK HKBP seperti Distrik Angkola, Distrik Silindung,Distrik Humbang, Distrik Samosir dan Distrik Sumatera Timur.
# 1918 * DR. I.L. Nommensen Meninggal Dunia di Sigumpar.
# 1918 – 1920 * Ds. V. Kessel menjadi pejabat Ephorus.
# 1920 * DR. J.Warneck terpilih jadi Ephorus.
# 1922 * Sidang Raya (Sinode Godang I)
# 1931 * Pengakuan PEMERINTAH menjadi badan Hukum (Rechtspersoon).
# 1932 * Pdt. P. Landgrebe terpilih menjadi Ephorus.
# 1940 * Pdt. K. Sirait terpilih menjadi EPHORUS (Pucuk Pimpinan) pertama dari pendeta Batak.
# 1950 * Pdt. J. Sihombing terpilih menjadi Ephorus didampingi Sekretaris Jenderal Ds. K. Sitompul.
# 1952 * HKBP menjadi anggota L.W.F.
# 1954 * Berdirinya Universitas HKBP Nommensen.
# 1961 * Jubileum 100 Tahun HKBP di Tarutung.
# 1971 * Sidang Raya Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) yang diselenggarakan di Univ. HKBP Nommensen P. Siantar. HKBP bertindak sebagai tuan rumah.
# 1986 * Pentahbisan Pendeta WANITA pertama di HKBP yaitu Pdt.Norce P.Lumbantoruan STh. * Jubileum 125 tahun HKBP.
# 1993 * Sidang Raya (Sinode Godang Istimewa) di Medan memilih Pdt.DR. P.W.T. Simanjuntak sebagai Ephorus dan Pdt. DR.S.M. Siahaan sebagai Sekjen. untuk masa bakti 1992-1998.
# 1996 * Musyawarah Besar (MUBES) I sintua se-HKBP di Jakarta (1-4 Agustus 1996).

tokoh

Permalink 1 Comment

Story Of Sisingamangaraja XII

June 6, 2009 at 7:37 AM (Story) (, )

sisingamangaraja1

Ketika Sisingamangaraja XII dinobatkan menjadi Raja Batak, waktu itu umurnya baru 19 tahun. Sampai pada tahun 1886, hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan tanah Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai di bawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII yang masih muda. Rakyat bertani dan beternak, berburu dan sedikit-sedikit berdagang. Kalau Raja Sisingamangaraja XII mengunjungi suatu negeri semua yang “terbeang” atau ditawan, harus dilepaskan. Sisingamangaraja XII memang terkenal anti perbudakan, anti penindasan dan sangat menghargai kemerdekaan. Belanda pada waktu itu masih mengakui Tanah Batak sebagai “De Onafhankelijke Bataklandan” (Daerah Batak yang tidak tergantung pada Belanda.
Tahun 1837, kolonialis Belanda memadamkan “Perang Paderi” dan melapangkan jalan bagi pemerintahan kolonial di Minangkabau dan Tapanuli Selatan. Minangkabau jatuh ke tangan Belanda, menyusul daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok, Pantai Barus dan kawasan Sibolga.
Karena itu, sejak tahun 1837, Tanah Batak terpecah menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah direbut Belanda menjadi daerah Gubernemen yang disebut “Residentie Tapanuli dan Onderhoorigheden”, dengan seorang Residen berkedudukan di Sibolga yang secara administratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang. Sedangkan bagian Tanah Batak lainnya, yaitu daerah-daerah Silindung, Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba, Samosir, belum berhasil dikuasai oleh Belanda dan tetap diakui Belanda sebagai Tanah Batak yang merdeka, atau ‘De Onafhankelijke Bataklandan’.
Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentaranya mendarat di pantai-pantai Aceh. Saat itu Tanah Batak di mana Raja Sisingamangaraja XII berkuasa, masih belum dijajah Belanda.
Tetapi ketika 3 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1876, Belanda mengumumkan “Regerings” Besluit Tahun 1876” yang menyatakan daerah Silindung/Tarutung dan sekitarnya dimasukkan kepada kekuasaan Belanda dan harus tunduk kepada Residen Belanda di Sibolga, suasana di Tanah Batak bagian Utara menjadi panas.
Raja Sisingamangaraja XII yang kendati secara clan, bukan berasal dari Silindung, namun sebagai Raja yang mengayomi raja-raja lainnya di seluruh Tanah Batak, bangkit kegeramannya melihat Belanda mulai menganeksasi tanah-tanah Batak.
Raja Sisingamangaraja XII cepat mengerti siasat strategi Belanda. Kalau Belanda mulai mencaplok Silindung, tentu mereka akan menyusul dengan menganeksasi Humbang, Toba, Samosir, Dairi dan lain-lain.
Raja Sisingamangaraja XII cepat bertindak, Beliau segera mengambil langkah-langkah konsolidasi. Raja-raja Batak lainnya dan pemuka masyarakat dihimpunnya dalam suatu rapat raksasa di Pasar Balige, bulan Juni 1876. Dalam rapat penting dan bersejarah itu diambil tiga keputusan sebagai berikut :
1. Menyatakan perang terhadap Belanda
2. Zending Agama tidak diganggu
3. Menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda.
Terlihat dari peristiwa ini, Sisingamangaraja XII lah yang dengan semangat garang, mengumumkan perang terhadap Belanda yang ingin menjajah. Terlihat pula, Sisingamangaraja XII bukan anti agama. Dan terlihat pula, Sisingamangaraja XII di zamannya, sudah dapat membina azas dan semangat persatuan dan suku-suku lainnya.
Tahun 1877, mulailah perang Batak yang terkenal itu, yang berlangsung 30 tahun lamanya.
Dimulai di Bahal Batu, Humbang, berkobar perang yang ganas selama tiga dasawarsa, 30 tahun.
Belanda mengerahkan pasukan-pasukannya dari Singkil Aceh, menyerang pasukan rakyat semesta yang dipimpin Raja Sisingamangaraja XII.
Pasukan Belanda yang datang menyerang ke arah Bakara, tempat istana dan markas besar Sisingamangaraja XII di Tangga Batu, Balige mendapat perlawanan dan berhasil dihempang.
Belanda merobah taktik, ia menyerbu pada babak berikutnya ke kawasan Balige untuk merebut kantong logistik Sisingamangaraja XII di daerah Toba, untuk selanjutnya mengadakan blokade terhadap Bakara.
Tahun 1882, hampir seluruh daerah Balige telah dikuasai Belanda, sedangkan Laguboti masih tetap dipertahankan oleh panglima-panglima Sisingamangaraja XII antara lain Panglima Ompu Partahan Bosi Hutapea. Baru setahun kemudian Laguboti jatuh setelah Belanda mengerahkan pasukan satu batalion tentara bersama barisan penembak-penembak meriam.
Tahun 1883, seperti yang sudah dikuatirkan jauh sebelumnya oleh Sisingamangaraja XII, kini giliran Toba dianeksasi Belanda. Domino berikut yang dijadikan pasukan Belanda yang besar dari Batavia (Jakarta sekarang), mendarat di Pantai Sibolga. Juga dikerahkan pasukan dari Padang Sidempuan.
Raja Sisingamangaraja XII membalas menyerang Belanda di Balige dari arah Huta Pardede. Baik kekuatan laut dari Danau Toba, pasukan Sisingamangaraja XII dikerahkan. Empat puluh Solu Bolon atau kapal yang masing-masing panjangnya sampai 20 meter dan mengangkut pasukan sebanyak 20 x 40 orang jadi 800 orang melaju menuju Balige. Pertempuran besar terjadi.
Pada tahun 1883, Belanda benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya dan Sisingamangaraja XII beserta para panglimanya juga bertarung dengan gigih. Tahun itu, di hampir seluruh Tanah Batak pasukan Belanda harus bertahan dari serbuan pasukan-pasukan yang setia kepada perjuangan Raja Sisingamangaraja XII.
Namun pada tanggal 12 Agustus 1883, Bakara, tempat Istana dan Markas Besar Sisingamangaraja XII berhasil direbut oleh pasukan Belanda. Sisingamangaraja XII mengundurkan diri ke Dairi bersama keluarganya dan pasukannya yang setia, juga ikut Panglima-panglimanya yang terdiri dari suku Aceh dan lain-lain.
Pada waktu itulah, Gunung Krakatau meletus. Awan hitam meliputi Tanah Batak. Suatu alamat buruk seakan-akan datang. Sebelum peristiwa ini, pada situasi yang kritis, Sisingamangaraja XII berusaha melakukan konsolidasi memperluas front perlawanan. Beliau berkunjung ke Asahan, Tanah Karo dan Simalungun, demi koordinasi perjuangan dan perlawanan terhadap Belanda.
Dalam gerak perjuangannya itu banyak sekali kisah tentang kesaktian Raja Sisingamangaraja XII.
Perlawanan pasukan Sisingamangaraja XII semakin melebar dan seru, tetapi Belanda juga berani mengambil resiko besar, dengan terus mendatangkan bala bantuan dari Batavia, Fort De Kok, Sibolga dan Aceh. Barisan Marsuse juga didatangkan bahkan para tawanan diboyong dari Jawa untuk menjadi umpan peluru dan tameng pasukan Belanda.
Regu pencari jejak dari Afrika, juga didatangkan untuk mencari persembunyian Sisingamangaraja XII. Barisan pelacak ini terdiri dari orang-orang Senegal. Oleh pasukan Sisingamangaraja XII barisan musuh ini dijuluki “Si Gurbak Ulu Na Birong”. Tetapi pasukan Sisingamangaraja XII pun terus bertarung. Panglima Sarbut Tampubolon menyerang tangsi Belanda di Butar, sedang Belanda menyerbu Lintong dan berhadapan dengan Raja Ompu Babiat Situmorang. Tetapi Sisingamangaraja XII menyerang juga ke Lintong Nihuta, Hutaraja, Simangarongsang, Huta Paung, Parsingguran dan Pollung. Panglima Sisingamangaraja XII yang terkenal Amandopang Manullang tertangkap. Dan tokoh Parmalim yang menjadi Penasehat Khusus Raja Sisingamangaraja XII, Guru Somaling Pardede juga ditawan Belanda. Ini terjadi pada tahun 1889.
Tahun 1890, Belanda membentuk pasukan khusus Marsose untuk menyerang Sisingamangaraja XII. Pada awal abad ke 20, Belanda mulai berhasil di Aceh.
Tahun 1903, Panglima Polim menghentikan perlawanan. Tetapi di Gayo, dimana Raja Sisingamangaraja XII pernah berkunjung, perlawanan masih sengit. Masuklah pasukan Belanda dari Gayo Alas menyerang Sisingamangaraja XII.
Tahun 1907, pasukan Belanda yang dinamakan Kolonel Macan atau Brigade Setan mengepung Sisingamangaraja XII. Tetapi Sisingamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Ia bertempur sampai titik darah penghabisan. Boru Sagala, Isteri Sisingamangaraja XII, ditangkap pasukan Belanda. Ikut tertangkap putra-putri Sisingamangaraja XII yang masih kecil. Raja Buntal dan Pangkilim. Menyusul Boru Situmorang Ibunda Sisingamangaraja XII juga ditangkap, menyusul Sunting Mariam, putri Sisingamangaraja XII dan lain-lain.
Tahun 1907, di pinggir kali Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang, gugurlah Sisingamangaraja XII oleh peluru Marsuse Belanda pimpinan Kapten Christoffel. Sisingamangaraja XII gugur bersama dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya Lopian. Konon Raja Sisingamangaraja XII yang kebal peluru tewas kena peluru setelah terpercik darah putrinya Lopian, yang gugur di pangkuannya.
Pengikut-pengikutnya berpencar dan berusaha terus mengadakan perlawanan, sedangkan keluarga Sisingamangaraja XII yang masih hidup ditawan, dihina dan dinista, mereka pun ikut menjadi korban perjuangan.
Demikianlah, tanpa kenal menyerah, tanpa mau berunding dengan penjajah, tanpa pernah ditawan, gigih, ulet, militan, Raja Sisingamangaraja XII selama 30 tahun, selama tiga dekade, telah berjuang tanpa pamrih dengan semangat dan kecintaannya kepada tanah air dan kepada kemerdekaannya yang tidak bertara.
Itulah yang dinamakan “Semangat Juang Sisingamangaraja XII”, yang perlu diwarisi seluruh bangsa Indonesia, terutama generasi muda.
Sisingamangaraja XII benar-benar patriot sejati. Beliau tidak bersedia menjual tanah air untuk kesenangan pribadi.
Sebelum Beliau gugur, pernah penjajah Belanda menawarkan perdamaian kepada Raja Sisingamangaraja XII dengan imbalan yang cukup menggiurkan. Patriotismenya digoda berat. Beliau ditawarkan dan dijanjikan akan diangkat sebagai Sultan. Asal saja bersedia takluk kepada kekuasaan Belanda. Beliau akan dijadikan Raja Tanah Batak asal mau berdamai. Gubernur Belanda Van Daalen yang memberi tawaran itu bahkan berjanji, akan menyambut sendiri kedatangan Raja Sisingamangaraja XII dengan tembakan meriam 21 kali, bila bersedia masuk ke pangkuan kolonial Belanda, dan akan diberikan kedudukan dengan kesenangan yang besar, asal saja mau kompromi, tetapi Raja Sisingamangaraja XII tegas menolak. Ia berpendirian, lebih baik berkalang tanah daripada hidup di peraduan penjajah.
Raja Sisingamangaraja XII gugur pada tanggal 17 Juni 1907, tetapi pengorbanannya tidaklah sia-sia.
Dan cuma 38 tahun kemudian, penjajah betul-betul angkat kaki dari Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan Sukarno-Hatta.
Kini Sisingamangaraja XII telah menjadi sejarah. Namun semangat patriotismenya, jiwa pengabdian dan pengorbanannya yang sangat luhur serta pelayanannya kepada rakyat yang sangat agung, kecintaannya kepada Bangsa dan Tanah Airnya serta kepada kemerdekaan yang begitu besar, perlu diwariskan kepada generasi penerus bangsa Indonesia.
Dalam upaya melestarikan system nilai yang melandasi perjuangan Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII dengan menggali khasanah budaya dan system nilai masa silam yang dikaitkan dengan keinginan membina masa depan yang lebih baik, lebih bermutu dan lebih sempurna, maka Lembaga Sisingamangaraja XII yang didirikan dan diketuai DR GM Panggabean pada tahun 1979, telah membangun monumen Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di kota Medan yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto di Istana Negara dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember 1997 dan Pesta Rakyat peresmian monumen tersebut di Medan dihadiri sekitar seratus ribu orang, dengan Pembina Upacara Menko Polkam Jenderal TNI Maraden Panggabean.
Kemudian oleh Yayasan Universitas Sisingamangaraja XII pada tahun 1984 telah didirikan Universitas Sisingamangaraja XII (US XII) di Medan, pada tahun 1986 Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA) di Silangit Siborong-borong Tapanuli Utara dan pada tahun 1987 didirikan STMIK Sisingamangaraja XII di Medan.

Permalink Leave a Comment

Amazing Grace…..

June 3, 2009 at 6:35 AM (Music, Rohani) (, )

john newton
Semua kita mungkin pernah mendengar namanya mungkin juga tidak, tapi yang pasti kita pernah menyanyikan hymn dari John Newton. Salah satu hymn favorit yang sering kita nyanyikan adalah, “Amazing Grace How Sweet The Sound – That Saved A Wretch Like Me!”
Mungkin jarang yang tahu kalau lagu tersebut merupakan cerita tentang John Newton sendiri. Dia dibesarkan oleh ibu yang takut akan TUHAN, yang berdoa untuk dia sepanjang hidupnya.
Setelah dewasa John bergabung dengan perdagangan budak, menjual budak dari Africa ke Inggris. Dia jatuh ke dalam kehidupan yang liar, sering berkelahi dan mabuk-mabukan. Kehidupannya pada saat itu diakuinya sendiri kalau ia adalah ‘budaknya budak’. Tugas terakhir yang diembannya sebagai penjual budak adalah mencari beberapa budak yang melarikan diri dari pantai Afrika. Akibatnya ia harus mengalami sengsara dan menjalani kehidupan yang sangat sulit.
Satu kali dalam perjalanan kapal kembali ke Inggris, di tengah badai Atlantik ia mengalami ketakutan. John Newton saat itu takut mati! Yang dia ingat saat itu adalah doa ibunya. Karena itulah John Newton mengakui dosa-dosanya dan datang pada Kristus.
Salah satu hymn-nya yang terkenal dan merupakan kesaksian dirinya ia ciptakan pada saat itu:
john newton1
In evil long I took delight, unawed by shame or fear,
Aku hidup dalam kenikmatan duniawi cukup lama, tanpa rasa malu ataupun takut
Until a new object met my sight, and stopped my wild career.
Sampai suatu penglihatan datang padaku, dan aku menghentikan keliaranku.
I saw One hanging on a tree in agony and blood,
Aku melihat DIA terpaku di salib penuh sengsara dan berdarah,
Who fixed his languid eyes on me as near his cross
Dia menatapku dengan pandangan yang dalam saat aku berada di dekat salibNya
I stood Sure, never till my latest breath shall I forget that look.
Dengan yakin kuberdiri, sampai nafas terakhirku tidak akan kulupakan penglihatan itu.
It seemed to charge me with his death, though not a word he spoke.

Aku seperti terbebani dengan kematianNya, meskipun tidak sepatah katapun IA ucapkan.
A second look he gave, which said, “I freely all forgive;
Kedua kalinya IA memandang, sambil berkata, “AKU telah memaafkan semuanya;
My blood was for thy ransom paid, I died that thou mayest live.”
Darahku telah lunas menebusnya, AKU mati supaya kamu hidup.”
Dan dia hidup! Dia menjadi salah satu orang Kristen terbesar di Inggris, penulis dari banyak hymn yang bertujuan menunjukan sukacita, kebahagiaan hidupnya setelah menemukan Yesus Kristus.
Hal yang sama akan berlaku bagi kita jika kita mau memperoleh kebahagiaan sejati. Kasih Karunia atau Anugerah dari Tuhan Yesus tetap berlaku bagi hidupmu

Permalink Leave a Comment

Sahabat Sejati

June 2, 2009 at 6:05 AM (Rohani)

Yesus
Friends
Selasa, 2 Juni 2009
Bacaan hari ini: Yesaya 40:25-31
Ayat mas hari ini: Yesaya 40:29

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 58-60

Ada gula, ada semut. Peribahasa ini tampak begitu nyata dalam kehidupan orang-orang yang ditinggalkan teman-temannya pada saat mengalami kegagalan. Kenyataan membuktikan bahwa lebih mudah mendapatkan teman pada saat segala sesuatunya berjalan dengan baik, sukses, dan gemilang. Tetapi di saat-saat yang sulit; dalam kebangkrutan, kegagalan dan penderitaan, mereka berpaling pergi. Teman sejati adalah mereka yang tidak meninggalkan temannya sekalipun dalam duka dan keadaan sulit.
Melebihi seorang teman sejati di du¬nia, Tuhan adalah Sahabat sejati bagi kita. Dia tak pernah meninggalkan kita dalam situasi seburuk apa pun. Firman-Nya, “Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yosua 1:5). Saat dunia mencampakkan orang yang gagal, Dia justru datang untuk menolong orang-orang yang sakit, menghibur yang berduka, memberikan kelegaan kepada mereka yang letih lesu dan berbeban berat, memberikan kekuatan kepada yang lelah, dan menambah semangat kepada yang tak berdaya. Dia sangat peduli kepada kita!

Saat ini, apakah Anda sedang membutuhkan dukungan semangat dari seorang teman? Sekalipun Anda tidak dapat melihat-Nya secara fisik, Anda dapat merasakan kehadiran-Nya dengan nyata. Dia memberikan dukungan semangat setiap saat kepada kita untuk terus berjuang melakukan yang terbaik. Dia tak pernah mengabaikan kita. Dia selalu ada bagi kita, Dia sangat mengasihi kita. Hidup kita begitu berharga bagi-Nya, sehingga Dia memberikan nyawa-Nya untuk menebus kita. Maka, bersandarlah teguh kepada-Nya. Andalkanlah Dia, Sahabat kita, Sang Sumber kekuatan kita.

MELANGKAHLAH BERSAMA-NYA, SAHABAT SEJATI KITA MAKA TIDAK ADA ALASAN BAGI KITA UNTUK MENYERAH DALAM HIDUP!

Permalink Leave a Comment

Next page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.